Ukhuwah Di Bidang Batas Rekfleksi Dan Refraksi

 

A. Babak Baru Atau Babak Belur?

Sudah menjadi sunnatullah bahwa seiring berlalunya hari quantitas manusia pilihan terus disaring. Kendati demikian adanya, tidak berarti hal tersebut akan berlalu tanpa ujian (lagi). Justru dengan sedikitnya jumlah di tengah sekian banyaknya umat manusia, akan semakin diuji dengan berbagai fitnah. Mana yang akan terus kokoh, mana yang akan tumbang di tengah perjalanannya.

Sampai saling serang, saling tuduh, saling caci, dan saling hina di antara mereka. Bukan lagi perlawanan terhadap musuh, melainkan pertarungan dahsyat ke arah dalam. Suatu peperangan yang hanya kematian sebagai tanda telah usainya pertempuran. Ya.., itulah konflik dengan diri sendiri.

Aku lebih unggul,
– Aku lebih dikenal,
– Aku lebih kuasa,
– Aku lebih …,
– Aku lebih …,
– Dan lebih …,

Hingga lupa, bahwa kita hanyalah hamba yang tak mampu mengendalikan hatinya sendiri. Satu organ yang sudah terinstal sejak kita lahir. Wallahul Musta’an

Di saat saling menjatuhkannya diantara sesama, tentu ada yang sepaham, tentu juga ada yang berseberangan. Kendati demikian tidak membuat mereka segera berpisah.

Maunya?
Kamu ikut aku!”

Sampai pada semakin bergulirnya waktu, terbentuklah kubu-kubu dalam satu wadah, entah disadari atau dengan tanpa disadari. Nas’alullahas salamah wal ‘afiyah.

Ikhwati fillah..

Sebelum lebih jauh lagi jemari merangkai simpulan, mari kita sejenak memuraja’ah catatan dars kita, taklim kita, atau daurah kita bersama guru-guru kita tercinta. Barangkali pernah melewati satu ayat dari sekian ribu ayat al Qur’an.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpegang teguhlah kepada tali Allah kalian semua dan janganlah kalian berpecah belah. Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, tetapi Dia mempersatukan hatimu, sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi bersaudara. Kamu dahulu berada di ambang jurang api neraka, tetapi Dia menyelamatkanmu dari itu. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali Imran : 103)

Pada akhir ayat tersebut Al Imam Ibnu kasir rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya,

وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا

Konteks ini berkaitan dengan suku Aus dan Khazraj, karena terjadi banyak peperangan di antara mereka pada masa pra-Islam, dan permusuhan yang hebat, dendam, kebencian, dan permusuhan yang memperpanjang pertempuran dan peperangan di antara mereka. Kemudian ketika Allah menurunkan Islam dan orang-orang di antara mereka yang memeluknya melakukannya, mereka menjadi bersaudara, saling mencintai karena Allah, menjaga hubungan karena Allah, dan bekerja sama dalam kebaikan dan ketakwaan.”

Ikhwati fillah..

Ini terjadi sebelum mereka memeluk islam, kemudian mereka memeluk islam, dan Allah lembutkan hati-hati mereka. Yang semula saling benci, saling caci hingga peperangan terjadi. Allah lenyapkan itu semua dengan islam. Allahu Akbar.

– Lalu bagaimana dengan kita?
– Yang katanya, sedari lahir sudah berstempelkan islam?
– Yang katanya, telah mempelajari agama dengan ikhlas?
– Sudahkah demikian?
– Apakah masih tersisa, endapan-endapan itu di hati kita?

Tak perlu dijawab. Cukup diketahui, sembunyikan rapat-rapat, dan sampaikan pada Allah agar Dia melembutkan hati-hati kita.

B. Sudutku Dan Sudutmu, Siapa Yang Lebih Lapang?

Memang tidak bisa dipungkiri, sesekali kita berbeda pandang dengan kawan kita. Satu hal yang lumrah. Dan itu wajar, karena kita sama-sama punya akal. Kita sama-sama pernah melalui proses berfikir. Namun bukan berarti kawan kita yang salah, kita yang benar. Atau sebaliknya, ternyata kita yang salah dan kawan kita yang benar. Tidak demikian.

Di manapun posisi kita, kita tetap manusia biasa. Bisa saja terluput dari satu faedah, bisa juga belum sampai keilmuannya pada kita. Khilaf.. Itulah tempat kita sejatinya.

Ikhwati fillah..

Menyoal khilaf sesama, kami wasiatkan untuk diri pribadi kami sendiri secara khusus, untuk berlapang-lapang dada terhadap kesalahan sesama. Bisa jadi apa yang menimpa saudara kita, akan menimpa kita di hari kemudian. Bisa saja. Karena dunia ini tempatnya ujian.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ . وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ. أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ أَن يَسْبِقُونَا ۚ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja karena mereka berkata, “Kami beriman,” dan tidak akan diuji?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, dan Allah pasti akan menampakkan orang-orang yang benar dan pasti akan menampakkan orang-orang yang berdusta. Atau apakah orang-orang yang berbuat jahat mengira mereka dapat menghindari Kami? Betapa buruknya keputusan mereka!” (Al Ankabut : 2-4)

Teramat rugilah mereka yang bersikukuh terhadap kesalahan saudaranya.

Al Imam Ibnu Hibban rahimahullah mengatakan,

الإعتذار يُذهب الهموم، ويُجلي الأحزان، ويَدفع الحقد، ويُذهب الصدّ. فلو لم يكن في اعتذار المرء إلى أخيه خصلة تحمد إلا نفى التعجب عن النفس في الحال لكان الواجب على العاقل أن لا يفارقه الاعتذار عند كل زلة

Memberi udzur (kepada orang lain) menghilangkan kegelisahan, melenyapkan kesedihan, menolak kedengkian, menyirnakan penghalang dari saudara. Seandainya sikap memberi udzur kepada saudara (yang bersalah) hanya memiliki satu keutamaan yang terpuji yaitu menghilangkan sikap ujub dari jiwa seketika itu juga, maka wajib bagi orang yang berakal untuk tidak meninggalkan sikap memberi udzur kepada saudara pada setiap kekeliruan.” (Raudhatul ‘Uqalaa’ hal. 186)

Dalam Syu’abul Iman (6/323) juga dikatakan,

إذا زل أخ من إخوانكم فاطلبوا له سبعين عذرا فإن لم يقبله قلوبكم فاعلموا أن المعيب أنفسكم

Apabila saudaramu melakukan kesalahan/ketergelinciran maka carilah udzur untuknya hingga 70 udzur. Jika udzur tersebut tidak bisa diterima oleh hati kalian, maka sesungguhnya yang tercela adalah jiwa kalian.”

Beginilah Ikhwati fillah, agama kita menuntunkan langkah hati kita. Pada kelapangan dada dan kebesaran hati, bukan pada kekakuan, pemaksaan, dan intimidasi-intimidasi.

فانظر إليها نَظَر المستحسنِ … وأَحسن الظنَّ بها وحَسِّنِ
وإنْ تجَِدْ عيباً فسُدَّ الخَلَلا … فَجَلَّ من لا فيهِ عيبٌ وعلا

Lihatlah saudaramu dengan pandangan sayang … Berbaik sangkalah kepadanya dan kasihilah ia.
Jika kau dapati celah maka tutuplah aib … Maha Mulia Dzat yang tiada memiliki aib lagi Maha Tinggi.
(Tuhfatul Khalil fi Dawabitit Ta’arud al-Jarh wa al-Ta’dil).

Lhooo… Nggak! Ini nggak intimidasi. Ini ngasih tau dia aja, kalau dia benar-benar bersalah.”

Allahul musta’an.

Maka akan berapa kali berapa lama saudara kita akan terus tertekan? Jika dia benar-benar bersalah, tunjukkan padanya. Ini lho Kang, Mas, Kak, Bang, Akhi.. Ini.. Ini.. Dan ini.. Selesai.

Bukankah kita, telah diteladankan oleh Al Imam asy syafi’i rahimahullah untuk menasehati secara sirr?

تعمدني بنصحك في انفرادي
وجنبْني النصيحة في الجماعهْ
فإن النصح بين الناس نوع
من التوبيخ لا أرضى استماعهْ
وإن خالفتني وعصيت قولي
فلا تجزعْ إذا لم تُعْطَ طاعهْ
Berilah nasihat kepadaku ketika aku sendiri.
Jauhilah memberikan nasihat di tengah-tengah keramaian.
Sesungguhnya nasihat di tengah-tengah manusia itu termasuk sesuatu
Pelecehan yang aku tidak suka mendengarkannya.
Jika engkau menyelisihi dan menolak saranku.
Maka janganlah engkau marah jika kata-katamu tidak aku turuti
(Diwan Asy Syafi’i, hal. 56)

C. Kita kah Pemilik Hidayah Itu?

Demikian pula, ketika menyampaikan kekhilafan-kekhilafan saudara kita, hendaknya tidak diikuti dengan pemaksaan-pemaksaan kehendak. Berilah dia waktu, berilah dia ruang untuk mengoreksi penyampaian kita. Untuk mengoreksi juga apa yang telah dia lakukan.

فَإِن تعديت هَذِه الْوُجُوه فَأَنت ظَالِم لَا نَاصح وطالب طَاعَة وَملك لَا مؤدي حق أَمَانَة وأخوة وَلَيْسَ هَذَا حكم الْعقل وَلَا حكم الصداقة لَكِن حكم الْأَمِير مَعَ رَعيته وَالسَّيِّد مَعَ عبيده

Jangan engkau menasehati orang dengan mempersyaratkan harus diterima nasehat tersebut darimu, jika engkau melakukan perbuatan berlebihan yang demikian, maka engkau adalah orang yang dzalim, bukan orang yang menasehati. Engkau juga orang yang menuntut ketaatan bak seorang raja, bukan orang yang ingin menunaikan amanah kebenaran dan persaudaraan. Yang demikian juga bukanlah perlakuan orang yang berakal dan bukan perilaku kedermawanan, namun bagaikan perlakuan penguasa kepada rakyatnya atau majikan kepada budaknya” (Al Akhlaq was Siyar fi Mudawatin Nufus, 45).

Ingat ikhwati fillah, tak ada pemaksaan, tak ada pengilzaman. Sampaikan.., Jika diterima, alhamdulillah, Jika tidak, ma’as salamah

Hidayah adalah hak prerogatif Allah Azza wa Jalla . Kita tak bisa mengharuskan, memaksakan saudara kita seperti kita. Dia juga sama seperti kita yang dulu, butuh proses untuk bisa berubah sampai pada detik ini.

Jangan pernah su’uzhzhan jika belum diterima, dan teruslah berdoa. Mendoakan saudara kita agar Allah menyelamatkan dia dan kita.

الْمُؤْمِنُ يَطْلُبُ مَعَاذِيرَ إِخْوَانِهِ ، وَالْمُنَافِقُ يَطْلُبُ عَثَرَاتِ إِخْوَانِهِ

Seorang mu’min itu mencari udzur (alasan-alasan baik) terhadap saudaranya. Sedangkan seorang munafik itu mencari-cari kesalahan saudaranya” (Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman no.10437).

Bisa jadi, cara penyampaian kita belum tepat, waktunya yang kurang pas, atau mungkin akan diterima jika orang lain yang menyampaikan. Maka, diri kitalah yang lebih pantas untuk berinstropeksi.

D. Jagalah Tali Simpulan Kita

Yang terakhir, Ikhwati fillah..

Ukhuwah adalah wadah untuk kita merekat-kuatkan tali agama Allah. Mari dengan sekuat tenaga pula, kita pegang tali tersebut. Jika ada saudara kita yang lengah, ingatkan. Ada yang bosan, semangati, beri motivasi. Terusssss… Begitu seterusnya.

Bukankah saling jegal, saling cubit, saling hantam, pura-pura tidak tahu. Akan menjadikan tali itu lepas dari genggaman? Na’udzubillah

Saudara-saudara kita adalah refleksi dari keberadaan kita. Pantulan dari agama kita. Kokoh atau tidaknya kita, akan tercermin dari kawan-kawan kita. Begitu pula refraksinya, kemana pembiasan-pembiasan hati itu akan diarahkan. Dengan kacamata apa ukhuwah akan difokuskan. Semua terbingkai dalam satu wadah bernama ukhuwah.

Tulisan ini, kami ejawantahkan sebagai pengingat diri pribadi kami secara khusus, dalam perkara furu’ dengan tanpa adanya al wala’ wal bara’ tentunya.

Ditulis oleh: Tim Redaksi Artikel Media Ukhuwah Anak Kuliah

✅ Artikel ini telah disetujui penyebarannya oleh: al-Ustadz Adi Abdullah hafizhahullah

🎒 *T.me/ukhuwahanakkuliah*
_Menjalin Ukhuwah, Menebar Dakwah_