Ngaji Kitab Tauhid (Bag.22)

Artikel Aqidah Artikel Dakwah

📕📚☝🏻 NGAJI KITAB TAUHID (BAG.22)

 

 

📚 Serial: Pembahasan Kitab Tauhid || Bab Takut Dari Berbuat Syirik

 

🖊 Oleh: al-Ustadz Hari Ahadi حفظه الله

 

____

 

FAEDAH: DUA JENIS RIYA’

 

Al-‘Allamah Ahmad bin Yahya an-Najmi rahimahullah berkata,

 

“Sesungguhnya riya’ sangat berbahaya, jarang ada yang bisa selamat, khususnya, riya’ yang muncul di tengah amalan.

 

Ketahuilah, sesungguhnya riya’ ada dua;

 

– Pertama, riya’ yang hukumnya syirik besar.

 

Yaitu riya’ yang menjadi penggerak seseorang untuk melakukan amalan. Inilah riya’ orang-orang munafik. Allah ta’ala berfirman,

 

وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ

 

“Apabila mereka (orang-orang munafik) berdiri untuk salat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” (Q.S. An-Nisa’: 142)

 

Apabila riya’ yang membuat seseorang jadi melakukan amalan, dalam artian dia mengerjakan amalan murni dalam rangka riya’ ‘untuk mendapatkan pujian orang-orang’, jenis ini termasuk syirik besar yang menyebabkan pelakunya kekal di neraka [jika dia tidak bertaubat sampai meninggal, —pent].

 

Seperti orang yang hanya salat jika sedang bersama dengan orang banyak, tapi tidak pernah salat jika dia sendirian atau di tempat yang tidak ada siapa pun. Jenis riya’ yang menjadi penggerak seseorang untuk beramal ini termasuk syirik besar, seperti yang telah saya sampaikan.

 

– Kedua, apabila yang menggerakkan seseorang beramal adalah imannya, lalu di tengah amalan muncul keinginan agar dipuji dan disanjung.

 

Seperti orang yang melaksanakan salat karena Allah, lalu ketika ada orang lain yang melihatnya salat, dia pun memperbagus salatnya [agar dipuji]. Maka upayanya dalam memperbagus salat tersebut adalah riya’ yang muncul di tengah amalan.

 

Hukumnya berbeda-beda tergantung keadaan.

 

• Apabila riya’ itu tetap terus bersamanya [sampai akhir], maka amalan itu batal.

 

• Apabila dia memohon perlindungan kepada Allah dan kembali mengikhlaskan niatnya karena Allah, maka kekurangan pada ibadahnya sesuai dengan riya’ yang terjadi saat itu.”

 

📕 (Asy-Syarh al-Mujaz al-Mumahhad, hlm. 27-28)

 

 

📮Boleh Join & Share :

http://t.me/ukhuwah_anak_kuliah

http://simpellink.com/medsosuak

 

🔰 UKHUWAH ANAK KULIAH 🔰

•• ════════ ❁✿❁════════ ••

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *