Ngaji Kitab Tauhid (Bag.16)

Artikel Aqidah Artikel Dakwah

Ukhuwah Anak Kuliah:
๐Ÿ“•๐Ÿ“šโ˜๐Ÿป NGAJI KITAB TAUHID (BAG.16)

๐Ÿ“š Serial: Pembahasan Kitab Tauhid || Bab Barang siapa yang Merealisasikan Tauhid, Maka Akan Masuk Surga Tanpa Hisab

๐Ÿ–Š Oleh: al-Ustadz Hari Ahadi ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡

____

MERAIH TAUHID YANG SEMPURNA

ุนูŽู†ู’ ุญูุตูŽูŠู’ู†ู ุจู’ู†ู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ูƒูู†ู’ุชู ุนูู†ู’ุฏูŽ ุณูŽุนููŠุฏู ุจู’ู†ู ุฌูุจูŽูŠู’ุฑู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽูŠู‘ููƒูู…ู’ ุฑูŽุฃูŽู‰ ุงู„ู’ูƒูŽูˆู’ูƒูŽุจูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุงู†ู’ู‚ูŽุถู‘ูŽ ุงู„ู’ุจูŽุงุฑูุญูŽุฉูŽุŸ ู‚ูู„ู’ุชู: ุฃูŽู†ูŽุง ุซูู…ู‘ูŽ ู‚ูู„ู’ุชู ุฃูŽู…ูŽุง ุฅูู†ู‘ููŠ ู„ูŽู…ู’ ุฃูŽูƒูู†ู’ ูููŠ ุตูŽู„ูŽุงุฉู ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู‘ููŠ ู„ูุฏูุบู’ุชู. ู‚ูŽุงู„ูŽ: ููŽู…ูŽุง ุตูŽู†ูŽุนู’ุชูŽุŸ ู‚ูู„ู’ุชู: ุงุฑู’ุชูŽู‚ูŽูŠู’ุชู. ู‚ูŽุงู„ูŽ: ููŽู…ูŽุง ุญูŽู…ูŽู„ูŽูƒูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฐูŽู„ููƒูŽ. ู‚ูู„ู’ุชู: ุญูŽุฏููŠุซูŒ ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุงู‡ู ุงู„ุดู‘ูŽุนู’ุจููŠู‘ู. ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ูˆูŽู…ูŽุง ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽูƒูู…ู’ุŸ ู‚ูู„ู’ุชู: ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุนูŽู†ู’ ุจูุฑูŽูŠู’ุฏูŽุฉูŽ ุจู’ู†ู ุงู„ู’ุญูุตูŽูŠู’ุจู ุงู„ู’ุฃูŽุณู’ู„ูŽู…ููŠู‘ู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู„ูŽุง ุฑูู‚ู’ูŠูŽุฉูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ู…ูู†ู’ ุนูŽูŠู’ู†ู ุฃูŽูˆู’ ุญูู…ูŽุฉู.

ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽุญู’ุณูŽู†ูŽ ู…ูŽู†ู’ ุงู†ู’ุชูŽู‡ูŽู‰ ุฅูู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ุณูŽู…ูุนูŽ ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ุนูŽู†ู’ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุนูุฑูุถูŽุชู’ ุนูŽู„ูŽูŠู‘ูŽ ุงู„ู’ุฃูู…ูŽู…ู ููŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ูˆูŽู…ูŽุนูŽู‡ู ุงู„ุฑู‘ูŽู‡ู’ุทูุŒ ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ูˆูŽู…ูŽุนูŽู‡ู ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ูˆูŽุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ูŽุงู†ูุŒ ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ูˆูŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู…ูŽุนูŽู‡ู ุฃูŽุญูŽุฏูŒุŒ ุฅูุฐู’ ุฑูููุนูŽ ู„ููŠ ุณูŽูˆูŽุงุฏูŒ ุนูŽุธููŠู…ูŒ ููŽุธูŽู†ูŽู†ู’ุชู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูู…ู’ ุฃูู…ู‘ูŽุชููŠ ููŽู‚ููŠู„ูŽ ู„ููŠ ู‡ูŽุฐูŽุง ู…ููˆุณูŽู‰ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽู‚ูŽูˆู’ู…ูู‡ู. ููŽู†ูŽุธูŽุฑู’ุชู ููŽุฅูุฐูŽุง ุณูŽูˆูŽุงุฏูŒ ุนูŽุธููŠู…ูŒุŒ ููŽู‚ููŠู„ูŽ ู„ููŠ: ู‡ูŽุฐูู‡ู ุฃูู…ู‘ูŽุชููƒูŽ ูˆูŽู…ูŽุนูŽู‡ูู…ู’ ุณูŽุจู’ุนููˆู†ูŽ ุฃูŽู„ู’ูู‹ุง ูŠูŽุฏู’ุฎูู„ููˆู†ูŽ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽ ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ุญูุณูŽุงุจู ูˆูŽู„ูŽุง ุนูŽุฐูŽุงุจู.

ุซูู…ู‘ูŽ ู†ูŽู‡ูŽุถูŽ ููŽุฏูŽุฎูŽู„ูŽ ู…ูŽู†ู’ุฒูู„ูŽู‡ู ููŽุฎูŽุงุถูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ูููŠ ุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ. ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุจูŽุนู’ุถูู‡ูู…ู’: ููŽู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽู‡ูู…ู’ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุตูŽุญูุจููˆุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽุŒ ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุจูŽุนู’ุถูู‡ูู…ู’: ููŽู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽู‡ูู…ู’ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูˆูู„ูุฏููˆุง ูููŠ ุงู„ู’ุฅูุณู’ู„ูŽุงู…ู ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูุดู’ุฑููƒููˆุง ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุฐูŽูƒูŽุฑููˆุง ุฃูŽุดู’ูŠูŽุงุกูŽ. ููŽุฎูŽุฑูŽุฌูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ููŽุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑููˆู‡ู

ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ู‡ูู…ู’ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽุณู’ุชูŽุฑู’ู‚ููˆู†ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽูƒู’ุชูŽูˆููˆู†ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุชูŽุทูŽูŠู‘ูŽุฑููˆู†ูŽ ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูŽุจู‘ูู‡ูู…ู’ ูŠูŽุชูŽูˆูŽูƒู‘ูŽู„ููˆู†ูŽ. ููŽู‚ูŽุงู…ูŽ ุนููƒู‘ูŽุงุดูŽุฉู ุจู’ู†ู ู…ูุญู’ุตูŽู†ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงุฏู’ุนู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฌู’ุนูŽู„ูŽู†ููŠ ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’. ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฃูŽู†ู’ุชูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’. ุซูู…ู‘ูŽ ู‚ูŽุงู…ูŽ ุฑูŽุฌูู„ูŒ ุขุฎูŽุฑู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงุฏู’ุนู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฌู’ุนูŽู„ูŽู†ููŠ ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุณูŽุจูŽู‚ูŽูƒูŽ ุจูู‡ูŽุง ุนููƒู‘ูŽุงุดูŽุฉู

Dari Hushain bin Abdirrahman, ia berkata, “Saat aku bersama Said bin Jubair, beliau berkata, ‘Siapa di antara kalian yang tadi malam melihat bintang jatuh?โ€™ Aku menjawab, โ€˜Aku, namun aku tidak sedang shalat, sebab aku disengat (binatang).’

Sa’id berkata, โ€˜Lantas apa yang engkau lakukan?โ€™ Aku menjawab, โ€˜Aku meminta untuk dirukiah.’ Sa’id bertanya, ‘Apa yang membuatmu melakukan hal itu?โ€™ Aku menjawab, โ€˜Satu hadits yang disampaikan oleh asy-Sya’bi.’

Sa’id bertanya, ‘Hadits apa yang disampaikan oleh asy-Sya’bi?’ Aku menjawab, โ€˜Dia telah menceritakan kepada kami dari Buraidah bin Hushaib, bahwa beliau berkata, โ€˜Tidak ada rukiah kecuali disebabkan oleh penyakit ain dan sengatan.’

Sa’id lalu berkata, ‘Sungguh baik orang yang melakukan sesuai dengan ilmu yang telah ia dengar, akan tetapi Ibnu Abbas telah menceritakan kepada kami dari Nabi ๏ทบ, bahwa beliau bersabda,

‘Umat-umat telah diperlihatkan kepadaku. Maka aku melihat seorang nabi bersama beberapa orang, ada lagi nabi yang diikuti satu atau dua orang, dan ada pula nabi yang tidak diikuti seorang pun. Tiba-tiba ditunjukkan kepadaku kelompok besar manusia, aku menyangka mereka adalah umatku. Namun dijelaskan, โ€˜Ini adalah Musa dan kaumnya.’ Lalu ada sekelompok manusia dengan jumlah besar lagi. Dan disampaikan kepadaku, โ€˜Ini adalah umatmu. Di antara mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan siksa.’

Kemudian Rasulullah ๏ทบ beranjak dan masuk ke rumahnya. Para sahabat membicarakan siapa yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa itu. Sebagian berkata, ‘Barangkali mereka adalah orang-orang yang selalu menyertai Rasulullah ๏ทบ’, sebagian lagi berkata, ‘Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak pernah menyekutukan Allah’. Dan mereka saling mengemukakan pendapat masing-masing.

Ketika Rasulullah ๏ทบ keluar, mereka memberitahu beliau apa yang sedang mereka perbincangkan, lalu Rasulullah ๏ทบ bersabda,

‘Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta untuk dirukiah, tidak meminta diobati dengan cara kay, tidak bertathayyur ‘menganggap sial sehabis melihat atau mendengar hal tertentu’, dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal.’

Ukkasyah bin Mihshan berdiri dan berkata, โ€˜Mohonkanlah kepada Allah agar menjadikan saya termasuk di antara mereka.โ€™ Rasulullah ๏ทบ bersabda, ‘Engkau termasuk di antara mereka.’ Kemudian yang lain berdiri dan berkata, โ€˜Mohonkanlah kepada Allah agar menjadikanku bagian dari mereka.โ€™ Beliau bersabda, ‘Kamu telah didahului Ukkasyah.'”

๐Ÿ“• H.R. Al-Bukhari (5752) dan Muslim (220)

Hadits ini menjelaskan tentang sifat-sifat orang beriman yang masuk surga langsung, tanpa hisab dan adzab. Mereka adalah, “orang-orang yang tidak meminta untuk dirukiyah, tidak meminta diobati dengan cara kay, tidak bertathayyur ‘menganggap sial sehabis melihat atau mendengar hal tertentu’, dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal.”

Berikut ini rangkuman dari penjelasan para ulama terhadap empat sifat di atas:

โ€ข Tidak meminta dirukiah

Rukiah ialah hal yang disyariatkan dan merupakan salah satu upaya meraih kesembuhan. Namun ketika rukiah itu diminta, maka ini dapat mengurangi nilai tawakal seseorang kepada Allah.

Lantaran ketergantungan hati seseorang bisa sangat kuat kepada orang yang merukiah dalam upaya meraih kesembuhan. Hal seperti ini mengurangi kesempurnaan tawakal kepada Allah.

Adapun orang yang sempurna tauhidnya, dia tidak melakukan sesuatu yang dapat mengurangi tawakalnya kepada Allah. Seseorang bisa merukiah dirinya sendiri dengan ayat dan doa-doa yang diajarkan oleh Rasulullah ๏ทบ, dengan bersandar sepenuhnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

โ€ข Tidak meminta di-kay

Kay ialah pengobatan dengan menempelkan besi panas pada bagian yang terluka. Metode seperti ini sangat dikenal di kalangan bangsa Arab, bahkan mereka meyakini bahwa mengobati penyakit tertentu dengan metode kay pasti akan sembuh. Karenanya, saat melakukan kay, hati mereka terpaut kuat dengannya. Sehingga hal ini juga mengurangi nilai kesempurnaan tawakal kepada Allah. Berbeda dengan orang yang sempurna dalam merealisasikan tauhidnya, mereka tidak mau meminta di-kay juga untuk menjaga kesempurnaan tawakal kepada Allah.

โ€ข Tidak bertathayyur

Tathayyur ialah anggapan akan terkena sial sehabis melihat, mendengar, atau merasakan hal tertentu, hingga akhirnya dia membatalkan rencananya. Ini terjadi pada orang yang memiliki tawakal yang kecil kepada Allah. Dan hukum tathayyur ialah syirik. Akan ada bab tersendiri yang membahas tentangnya.

โ€ข Bertawakal penuh kepada Allah

Sifat tawakal yang sempurna inilah yang membuat mereka tidak meminta dirukiah dan di-kay, serta tidak bertathayyur. Sehingga orang yang sempurna dalam merealisasikan tauhid ialah mereka yang sempurna dalam bertawakal.

Sebab-sebab untuk meraih keberhasilan tetap dia tempuh, namun tentang hasilnya, dia bertawakal kepada Allah. Dalam artian hatinya yakin dan percaya penuh terhadap Allah, bahwa Dia pasti akan mencukupi.

Bahan bacaan:

At-Tamhid li Syarh Kitab at-Tauhid, hlm. 46-48
Bulugh al-Ma’mul, hlm. 145

๐Ÿ“ฎBoleh Join & Share :
http://t.me/ukhuwah_anak_kuliah
http://simpellink.com/medsosuak

๐Ÿ”ฐ UKHUWAH ANAK KULIAH ๐Ÿ”ฐ
โ€ขโ€ข โ•โ•โ•โ•โ•โ•โ•โ• โโœฟโโ•โ•โ•โ•โ•โ•โ•โ• โ€ขโ€ข

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *