Beranda » Artikel » Pemuda Tanpa Dusta
kejujuran, akhlak Rasulullah

Sejak dulu, Muhammad ﷺ memang sudah dikenal sebagai orang yang terpandang. Bukan semata karena statusnya yang merupakan keturunan bangsawan, tapi juga karena perangainya yang luhur menawan.

Ia sudah sangat dihormati di usianya yang masih muda, bahkan menjadi orang kepercayaan kaumnya.

Muhammad ﷺ tumbuh dengan akal yang cemerlang, fisik yang tangkas, dan kalbu yang suci. Wajarlah bila di kemudian hari ia menjadi sosok yang benar-benar matang kedewasaannya. Akhlaknya yang terpuji dan dihiasi oleh ketajaman pikiran serta pandangan yang lurus, membuat Muhammad ﷺ menjadi pribadi yang begitu mengagumkan.

Tak seperti para pemuda Makkah lainnya yang senang mendatangi tempat hiburan dan menenggak minuman keras, Muhammad ﷺ muda adalah orang yang paling jauh dari itu semua. Fitrahnya masih suci dan bersih.

Ia tak pernah sekali pun mengikuti perbuatan kaumnya: mempercayai khurafat, menyembah berhala, menghadiri peringatan kesyirikan, makan dari hasil sembelihan untuk berhala, bahkan untuk mendengar ucapan sumpah atas nama berhala pun ia tak kuasa. Benar-benar seorang pemuda yang “berbeda”.

Muhammad ﷺ adalah orang yang sangat menjaga kehormatan diri. Ia juga sosok yang amat pemberani, adil, bijaksana, memiliki rasa malu, rendah hati, santun, penyabar, mudah bersyukur, dan qanaah (merasa cukup).

Namun, ada satu perangai yang membuatnya begitu menonjol di tengah-tengah kaumnya: kejujuran.

Muhammad ﷺ tak pernah berdusta, meskipun dalam canda. Tiada satu pun amanah yang diberikan kepadanya, kecuali pasti ia jaga dengan baik. Oleh sebab itulah kaumnya menggelari Muhammad ﷺ dengan sebutan al-Amin, “yang amat tepercaya”.

Dari kejujuran itu, yang selalu dipegang oleh Muhammad ﷺ sebagai prinsip hidup, muncullah sekian banyak kebaikan. Sebab, kejujuran pasti akan membuahkan kebaikan pada niat dan tindakan. Cepat atau lambat, kejujuran itu kelak akan membekas di hati.

Begitu pula dengan Muhammad ﷺ, yang begitu tulus menaungi para yatim dan menyantuni para janda. Sampai-sampai, Abu Thalib, sang paman, mengungkapkan tentang diri Muhammad dalam sebuah syair,

“Yang berkulit putih,

Yang awan diharapkan menurunkan hujan dengan wajahnya

Tempat bernaung para yatim,

Dan tempat berlindung para janda.”

Sungguh, Muhammad ﷺ telah memberikan teladan terbaik bagi umatnya akan pentingnya nilai sebuah kejujuran sebagai prinsip hidup. Dan melalui sabdanya, kita memang sudah seharusnya tersadar: sudah jujurkah kita selama ini?

“Kejujuran itu akan membuahkan kebaikan, dan kebaikan itu kelak akan mengantarkan ke surga. Sungguh, ada seseorang yang senatiasa berlaku jujur hingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur.” (HR. Al-Bukhari no. 6094 dan Muslim no. 2607)


Sumber:

  • Shafiyurrahman al-Mubarakfuri. 2006. Sirah Nabawiyah: Taman Cahaya di Atas Cahaya Perjalanan Hidup Rasulullah, hlm. 18—19. Terjemahan oleh Muhammad Daz bin Munir 2006. Tegal: Ash-Shaf Media.

Berkomentarlah dengan santun ...

DMCA.com Protection Status
%d blogger menyukai ini: